Selama kita Sekolah dari Tingkat Dasar sampai Tingkat Atas bahkan perguruan tinggi, kita sering mengenal nama Kerajaan Majapahit. Suatu kerajaan yang mahsyur sampai ke negeri luar karena kebesarannya. Memiliki daerah kekuasaan hampir se nusantara bahkan sampai Semananjung Malaka dan Filipina dalam kurun waktu 1239 hingga 1500.
Adalah Hayam Wuruk dengan Patih Gadjah Madanya sosok paling sukses dalam sejarah Majapahit. Karena merekalah Kerajaan Majapahit mengalami masa keemasan. Dan setelah itu kerajaan ini mulai meredup kekuasaanya seiring dengan mulai bangkitnya kekuasaan baru di Nusantara.
Walaupun demikian, memori akan kejayaan kerajaan Majapahit sampai sekarang tetap melekat di hampir di setiap orang di bangsa ini, apalagi dalam kondisi sekarang dimana negara Kita masih dalam tahap pemulihan krisis (atau bahkan dianggap sebagian orang, negara kita masih dalam kondisi terpuruk).
Pertanyaan sekarang, apakah dahulu Majapahit melakukan penyatuan atas bangsa ini atau melakukan invasi terhadap kerajaan lain? Memang pertanyaan ini bisa menjadi subyektif apabila ditanyakan kepada publik. Tanpa maksud mendistorsi pemahaman kebangsaan kita, mari kita liat sejarah ini secara obyektif.
Kalau kita tanya kepada masyarakat Sunda saat itu, bagaimana sakitnya perasaan mereka saat dihianati oleh Patih Gadjah Mada melalui diplomasi perkawinan Hayam Wuruk yang berujung pada peperangan di Bubat. Atau mungkin kalau kita tanya daerah kekuasaan Majapahit yang lain, apa memang mereka secara sukarela mau diperintah oleh Majapahit? Dan pertanyaan lain akan muncul yang pada akhirnya akan bermuara pada satu pertanyaan, apakah memang Majapahit melakukan penyatuan atas Nusantara atau justru Majapahit melakukan Invasi Militer terhadap kerajaan-kerajaan yang ada dan memaksa mereka mengakui kekuasaan Majapahit?
Selama sekian tahun bangsa kita selalu digambarkan, bahwa Majapahit pernah berjasa menyatukan bangsa kita. Namun dengan melihat sejarah yang ada, justru aroma Invasi militer lah yang lebih kentara. Hampir setiap tempat dikuasainya melalui jalan peperangan. Perang di Bubat merupakan salah satu bukti dari sekian banyak bukti sejarah yang lain yang tak terungkap.Satu pelajaran yang bisa diambil, bahwa kekuasaan yang dilandasi oleh pemaksaan kehendak tidak akan bertahan lama. Terbukti pada akhirnya Kerajaan Majapahit benar-benar runtuh.
Dengan keragamaan etnis dan agama di Indonesia, pola-pola kekuasaan otoriterian dan terpusat sulit di terapkan. Sejarah pula mencatat bahwa dengan pemusatan kekuasaan dan penyeragaman kebijakan telah membuat negara ini makin terpuruk.
Indonesia hanya dapat dibangun atas dasar sukarela dan menghargai keberagaman. Indonesia tidak dibangun oleh hanya satu suku tertentu, satu agama tertentu, atau satu orang saja. Bangsa ini dibangun oleh konsensus setiap suku ras dan agama yang ada di Indonesia. Tidak ada seorangpun dan satu golongan pun yang bisa mengaku-ngaku bahwa dia yang berhak menguasai bangsa ini. Bangsa Indonesia adalah milik kita bersama. Artinya semua orang berhak untuk hidup dan mengatur cara hidupnya sendiri.
63 Tahun Indonesia sudah berdiri, 100 Tahun Kebangkitan Nasional, dan 80 Tahun sudah Sumpah Pemuda di Ikrarkan oleh Pemuda kita dulu. Apakah kita mau bahwa bangsa kita makin terpuruk dan kalah oleh bangsa lain? Apakah kita mau Negara ini runtuh? Tentu, jawabannya Tidak. Jadi Mari kita bangun bangsa ini melalui kesatuan dengan tetap menghargai keberagaman.
BHINNEKA TUNGGAL IKA, berbeda-beda (beda suku,agama,ras, golongan) tapi tetap satu INDONESIA.

September 2, 2008 pukul 1:53 pm |
apakah majapahit adalah pemersatu nusantara atau invasi tergantung dari segi mana orang melihatnya. Bagi Majapahit sendiri mungkin merasa bahwa mereka adalah pemersatu, tapi bagi kerajaan2 yang melawan majapahit pasti mengatakan bahwa majapahit adalah negara agresor..
November 11, 2008 pukul 2:47 pm |
apapun namanya majapahit adalah suatu kebanggaan kita smua
Desember 6, 2008 pukul 6:42 pm |
sama aja sih kaya indo skrg.. maluku, papua, bahkan aceh mo merdeka. kita malah pake militer untuk meredamnya. karna apa? apa karna kita jahat? apakah bangsa indonesia adalah bangsa pemersatu? kalo smua rakyat suka, kok ada pemberontak? tergantung dari kita yang menilainya.
Desember 29, 2008 pukul 8:19 pm |
Menurutku majapahit itu penjajah sebab mengharuskan pulau-pulau seberang (nusantara) untuk menyetor upeti.
Februari 15, 2009 pukul 1:31 pm |
mari kita bicara konteks, pada jaman dulu sah-sah saja menginvasi sebuah wilayah atas asar cita2 penguasanya, lihat saja romawi, invasi jenghis khan, alexander the great,Invasi Inggris atas tanah amerika dan lain2, bahkan sampai kini pun kini memiliki arti invasi dalam konteks dan paradigma yg lain seperti invasi israel atas palestina, amerika atas kampanye perang melawan teror…jadi mari kita lihat sudut pandangnya, yang jelas kebesaran Majapahit memang tidak tertandingi saat itu
April 7, 2009 pukul 6:55 am |
Saya tidak bangga dengan Gadjah Mada.
Dengan kesadaran untuk mau berpikir obyektif, Gadjah Mada memanglah tokoh invasi, berusaha menguasai kerajaan-kerajaan yang sebelumnya sudah berdaulat.
Tapi gimana lagi, Masyarakat jepang pun tak suka bila Pasukan Nippon mereka disebut gerombolan penjajah…
Juli 2, 2009 pukul 4:31 pm |
Kalau kita membaca lagi Nagarakrtagama, Prapanca tidak menyebut Majapahit menginvasi negara-negara lain terutama nusantara. Prapanca menyebut daerah itu angasraya atau meminta bantuan kepada Majapahit. Karena meminta bantuan maka ada bagian yang diserahkan kepada Majapahit untuk diurus bersamakannya. Bila kita melihat Sejarah Melayu, wilayah di nusantara disebut hanya setengah sudah takluk. Jadi ada setengah lagi yang tidak takluk kepada Majapahit. Istilah invasi hanya ada di pemikiran Kern dan Krom saja.
September 18, 2009 pukul 10:05 am |
Salam nusantara … dari Malaysia.
Sejarah kita telah di tulis semula oleh penguasa (invasi) samada belanda, Inggeris dan jepang … dan anak-anak kita termasuklah kita adalah terdidik dari dasar pelajaran tersebut.
Sedar atau tidak kita telah menjadi negara yang dipecah-pecahkan, malah hampir menimbulkan sengketa persaudaraan.
Dalam menilai sejarah kita bukanlah orang yang berhak mengkultus hukum kerana buukan kita berada di zaman itu. Kita di umpamakan enam orang buta yang memegang gajah, jika di tanya bagaimanakah gajah itu setiap orang akan mengkomentar dari persepsi dirinya sendiri.
Yang jelas ia tidak kemana-mana, sekarang dasarwarsa yang jelas kita adalah generasi akan datang kepada mereka terdahulu yang mendiami kepulauan Melayu (Indonesia) dan daratan Melayu (Malaysia).
Konsep penyatuan Nusantara itu adalah suatu yang unggul dan agung, supaya semua nikmat kekayaan dan kemakmuran dari Tuhan diagihkan sekata tanpa mengira keturunan dan puak-puak.
Yang pastinya kita perlu meninggalkan pemikiran negatif dan mengambil jalan positif, nusantara perlu bersatu kembali di atas landasan asalnya.
KIta tidak lagi mengikut telunjuk penjajah, sejarah perlu ditulis semula.
Salam Nusantara dan menyambut Idul Fitri 1430H